Apakah dunia perkaderan itu sebuah utopia?
“Perkaderan itu masa lalu. Kini saatnya kita fokus kepada kesejahteraan keluarga.”
Aku baru saja bertemu dengan seorang teman lama. Dia kini aktif wira-wiri di beberapa partai besar membuat seminar ini dan itu dengan rekan-rekannya di berbagai instansi dan LSM. Penampilannya sekarang lebih bersih dan terawat. Apa tujuan semua kegiatan tersebut? “Gini aja pak. Daripada dananya dimakan sama elite partai, lebih baik kita jadikan seminar. Syukur-syukur ada peserta yang dapat hidayah dan berubah jadi baik.”
Dulu kita sama-sama aktif mengelola kajian di lingkungan mahasiswa se-Indonesia, sama-sama memaki praktik feodalisme, kapitalisme, militerisme dan oligarki di negeri ini. Seiring perjalanan waktu, kita berdua terpisah oleh kesibukan kantor masing-masing, saling tukar ide pun terputus. Kita bertemu lagi saat ia mengundangku pada sebuah acara dialog publik.
Kita membahas dunia perkaderan mahasiswa ketika aku cerita baru saja mengisi sebuah training mahasiswa di Kadungora, Garut. Sobatku ini, yang berhalangan datang karena jadwalnya bentrok dengan seminar pemprov di Pontianak, mengeluh tentang mentalitas para aktivis mahasiswa yang kian rusak. Mereka ingin mudah dan enaknya saja tanpa mau berproses, apalagi berkeringat dan berdarah-darah.
Katanya, selama organisasinya tidak dibersihkan dari orang-orang seperti itu, maka mentalitas kader mendatang akan tetap berprilaku instan, pragmatis, dan politis. Betapapun baiknya kurikulum yang ada tetap saja tidak akan mampu menghasilkan kader yang tangguh, profesional, militan apalagi ideologis. Semua materi ‘bagus dan baik’ tidak akan sampai ke tulang sumsum, melainkan tersumbat di tenggorokan saja.
Dengan semua kondisi ini, ia mengajakku untuk berpikir lebih realistis. “Perkaderan itu masa lalu. Kini saatnya fokus kepada kesejahteraan keluarga. Itu lebih wajib kita urus.”
Batinku bertanya, apakah perkaderan itu bukan realitas? Sejak kapan manusia bisa lepas dari perkaderan? Apakah perkaderan yang dilakukan oleh mahasiswa hanyalah mainan semu yang akan berubah bentuk dan nilainya setelah ia menjadi pegawai atau pengusaha dan merit dan beranak? Ataukah ada miskonsepsi dalam memaknai perkaderan selama ini? Jangan-jangan, munculnya gugatan batin ini karena kita belum merasakan dan melampui ‘kesejahteraan’ itu… [andito]
Kamis, 23 Juli 2009
Nasib Pengkaderan by Andito
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar