Kamis, 23 Juli 2009

Nasib Pengkaderan by Andito

Apakah dunia perkaderan itu sebuah utopia?
“Perkaderan itu masa lalu. Kini saatnya kita fokus kepada kesejahteraan keluarga.”
Aku baru saja bertemu dengan seorang teman lama. Dia kini aktif wira-wiri di beberapa partai besar membuat seminar ini dan itu dengan rekan-rekannya di berbagai instansi dan LSM. Penampilannya sekarang lebih bersih dan terawat. Apa tujuan semua kegiatan tersebut? “Gini aja pak. Daripada dananya dimakan sama elite partai, lebih baik kita jadikan seminar. Syukur-syukur ada peserta yang dapat hidayah dan berubah jadi baik.”
Dulu kita sama-sama aktif mengelola kajian di lingkungan mahasiswa se-Indonesia, sama-sama memaki praktik feodalisme, kapitalisme, militerisme dan oligarki di negeri ini. Seiring perjalanan waktu, kita berdua terpisah oleh kesibukan kantor masing-masing, saling tukar ide pun terputus. Kita bertemu lagi saat ia mengundangku pada sebuah acara dialog publik.
Kita membahas dunia perkaderan mahasiswa ketika aku cerita baru saja mengisi sebuah training mahasiswa di Kadungora, Garut. Sobatku ini, yang berhalangan datang karena jadwalnya bentrok dengan seminar pemprov di Pontianak, mengeluh tentang mentalitas para aktivis mahasiswa yang kian rusak. Mereka ingin mudah dan enaknya saja tanpa mau berproses, apalagi berkeringat dan berdarah-darah.
Katanya, selama organisasinya tidak dibersihkan dari orang-orang seperti itu, maka mentalitas kader mendatang akan tetap berprilaku instan, pragmatis, dan politis. Betapapun baiknya kurikulum yang ada tetap saja tidak akan mampu menghasilkan kader yang tangguh, profesional, militan apalagi ideologis. Semua materi ‘bagus dan baik’ tidak akan sampai ke tulang sumsum, melainkan tersumbat di tenggorokan saja.
Dengan semua kondisi ini, ia mengajakku untuk berpikir lebih realistis. “Perkaderan itu masa lalu. Kini saatnya fokus kepada kesejahteraan keluarga. Itu lebih wajib kita urus.”
Batinku bertanya, apakah perkaderan itu bukan realitas? Sejak kapan manusia bisa lepas dari perkaderan? Apakah perkaderan yang dilakukan oleh mahasiswa hanyalah mainan semu yang akan berubah bentuk dan nilainya setelah ia menjadi pegawai atau pengusaha dan merit dan beranak? Ataukah ada miskonsepsi dalam memaknai perkaderan selama ini? Jangan-jangan, munculnya gugatan batin ini karena kita belum merasakan dan melampui ‘kesejahteraan’ itu… [andito]

Read More..

Selasa, 14 Juli 2009

Pemberantasan Korupsi Belum Efektif


Upaya pemberantasan korupsi sudah didengungkan oleh pemerintah pusat sejak awal reformasi. Pemerintah yang terbentuk pasca tumbangnya Soeharto sudah membuat kerangka hukum yang kuat untuk memberantas korupsi. Dimulai dari munculnya Tap MPR nomor XI/MPR/tahun 1998 yang diarahkan untuk membentuk suatu pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Namun, dari pasca reformasi hingga saat ini indeks korupsi di Indonesia justru cenderung negatif.

Hal ini dipaparkan Erwan Purwanto, salah satu pembicara dalam Middle Indonesia Research Conference yang diselenggarakan di Gedung Magister Ilmu Sosial (M.SI) Untan, Senin (13/7). Erwan mengungkapkan berdasarkan data dari World bank indeks korupsi di Indonesia dalam rentang tahun 1996-2004 terukur negatif dari 0,55 pada 1996 menjadi -0,92 pada 2004 ( rentang terdiri dari -2,5 hingga 2,5 semakin tinggi nilai, semakin baik kinerja pemerintahan tersebut).

“Apalagi dengan munculnya kebijakan otonomi daerah sehingga pemda diberikan kesempatan lebih luas untuk mengatur struktrur organisasi daerah dan keuangan daerahnya ini justru menumbuhkan munculnya kasus korupsi di daerah,” paparnya.

Erwan yang meneliti korupsi khususnya pada pengadaan barang dan jasa menuturkan munculnya lembaga superbody KPK diera pemerintahan SBY ternyata tidak cukup signifikan untu
k mengurangi korupsi. Ia mengungkapkan birokrat saat ini memiliki cara untuk menyiasati agar koruspi yang dilakukannya sulit untuk ditelusuri.
Cara menyiasatinya justru dengan memanfaatkan kelemahan regulasi atau aturan pengadaan barang dan jasa.

“Untuk pengadaan barang dan jasa saja pada 2006 ada 264 kasus korupsi di daerah yang melibatkan 967 anggota DPRD. Dan 80 persen kasus korupsi di Indonesia itu berkenaan dengan pengadaan barang dan jasa,” ungkap Doktor lulusan Belanda ini.

Cara birokrat menyiasati proyek tersebut adalah dengan menunda tender, melakukan mark up nilai barang, melakukan tender secara fiktif, berkorporasi dengan LSM bahkan anggota DPRD untuk melakukan korupsi serta melakukan penunjukkan langsung proyek, tapi tender seolah-olah dilakukan. Menurut Erwan, Penundaan tender dilakukan agar proyek tersebut dapat “dijual” dengan penunjukkan langsung. Selain itu, tender fiktif dilakukan bekerja sama dengan media massa tertentu untuk mencetak koran secara terbatas.

“Pembicaraan antara birokrat dengan DPRD juga sering dilakukan untuk memuluskan pengadaan barang dan jasa termasuk juga dengan LSM,” terangnya.

Pesimis Berantas Korupsi
Profesor Redatin yang hadir sebagai peserta seminar ketika menanggapi presentasi paper oleh Erwan Purwanto mengatakan saat ini dirinya pesimis kalau korupsi bisa diberantas. Stigma ini muncul ketika ia melihat adanya sistem setoran yang dilakukan birokrat kepada atasannya. Selama uang hasil korupsi bisa digunakan untuk “membungkam” pengawas dan ada sisanya, maka korupsi tersebut akan terus berjalan.

“Bahkan ada PNS yang mulai bekerja dari pukul 12.00 sehingga terpaksa bekerja lembur. Akhirnya terkadang, upah lemburnya justru lebih besar dar gaji PNS,” kata Redatin.

Hal seperti ini bagi Redatin adalah contoh kecil dari korupsi yang tidak terlihat. Korupsi diibaratkan bagai sebuah candu dimana bila sekali saja orang terlibat, maka akan dilakukannya secara terus menerus. Apalagi orang tua saat ini secara tidak langsung tanpa disadari sudah mengajarkan anak untuk melakukan korupsi. Misalnya ketika mendaftarkan anak untuk bersekolah di tempat yang berkualitas namun dengan jalan menyogok.

“Korupsi terjadi karena adanya nilai kejujuran yang sudah tergeser,” ujar Redatin.

Saat ini menurut Redatin orang jujur sering termarginalisasi dan tersingkirkan. Justru banyak orang atau birokrat yang “abu-abu” yang justru menduduki jabatan penting.

Sementara itu Erwan menilai pemberantasan korupsi saat ini terbentur dalam penanganan kasus korupsi. Praktek korupsi saat ini telah sistemik, namun penegakan hukumnya masih saja bersifat individual. Bagi Erwan, ketegasan dan agama belum bisa menjamin korupsi akan berkurang. Pengawasan oleh lembaga auditor juga saat ini sudah bisa dibeli.

“Tinggal pengawasan dari masyarakat yang dianggap cukup efektif untuk mengurangi korupsi,” ujarnya.

Saat ini menurut Erwan adalah birokrat harus berupaya untuk lebih menerapkan asas transparansi untuk mewujudkan pemerintahan yang baik. Misalnya saja dengan mempublikasikan APBD di Web atau media cetak. Bila ini dilakukan maka upaya pemberantasan korupsi akan lebih baik ketimbang hanya mengandalkan KPK dan lembaga auditor lainnya.

Read More..

Kedirek 3 (profil Siagian)

Rizaldi Siagian adalah seorang etnomusikologi asal Medan yang saat ini menetap di Jakarta. Pria lulusan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan ini pernah kuliah di Amerika selama 3 tahun pada 1985.


Ia juga sempat menjadi dosen Etnomusikologi di USU kemudian memutuskan untuk keluar dari USU pada 1992 dan berwiraswasta sekaligus tetap menjalani profesinya sebagai seorang seniman pada 1992 hingga 1999. Saat ini memutuskan untuk tetap menjadi seorang etnomusikologi sejati.

Karya-karya yang pernah dibuatnya, diantaranya film tentang Fadel Muhammad, Seorang Gubernur Gorontalo serta yang terbaru adalah film dokumenter berdurasi 8 menit yang berjudul “My Forest’s Tears” atau dalam bahasa Indonesia Hutanku Meratap yang saat ini masuk dalam nominasi festival film internasional di Jepang. Belum lagi termasuk karya-karya di bidang lainnya.

“Etnomusikolog tidak percaya pada musik-musik universal karena sangat kapitalistik,” jawabnya ketika ditanya mengapa memilih menjadi etnomusikolog.


Walapun demikian, Rizal, sapaan akrabnya mengakui dirinya pernah bermain dalam grup band rock Great Session sebagai seorang drummer dan merangkap komposer ketika masih di USU Medan. Rizal mengungkapkan selama menjadi seorang anak band, ia merasa tidak menjadi apa-apa ketika dia memainkan itu.

“Ketika menjadi seniman saya akan merasakan bahagia dan dari sisi intelektual saya harus bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat,” katanya.

Ia juga menemukan sesuatu di luar dugaan yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Melalui perjalanannya kebeberapa daerah untuk menemukan berbagai macam kebudayaan daerah baginya memberikan ilmu pengetahuan yang lebih luas dan bisa dikembangkan.

Hadirkan Dalam Megalitikum Kuantum

Rizaldi Siagian menjelaskan dirinya berencana untuk menampilkan kledik dalam pagelaran Megalitikum Kuantum bersama kesenian Sub Suku Dayak lainnya seperti Timang yang merupakan tradisi lisan dimana pengetahuan disusun dalam suatu pantun kemudian disampaikan dengan cara bersenandung.

“Saya sudah pesan 100 buah kledik dan saya minta tiga orang untuk belajar. Nantinya ingin saya tampilkan dalam megalitikum kuantum,” papar Rizal.

Ditampilkannya kledik tersebut juga merupakan upaya untuk mempromosikan kebudayaan suku Dayak Inggar Silat karena menurutnya tugas seorang seniman adalah mempromosikan. “Saya peduli dengan mereka. Ini adalah bagian martabat bangsa dan jadikan ini semua sebagai identitas martabat kita,” katanya bersemangat
.
Ia juga ingin menunjukkan bahwa budaya ini bisa ditampilkan di tempat lain. Pertunjukkan kledik ini bisa sebagai pembentukan opini dan proses interaksi sehingga tidak menutup kemungkinan kledik menjadi suatu kebudayaan yang bernilai tinggi dan dikenal di seluruh dunia.

Read More..

Kedirek 2 (Munculkan ekonomi kreatif)


Bagi Rizal, sisi keunikan dari kledik sebenarnya bukan merupakan point interest yang menjadikannya suatu karya seni bernilai tinggi. Akan tetapi, potensi ekonomi kreatif bisa menjadikan kledik sebagai “jalan” untuk mewujudkannya. Apalagi dengan didukung masih adanya masyarakat adat khususnya Suku Dayak Inggar Silat yang berada di desa Sungai Buaya yang memiliki kemampuan memainkan kledik tersebut.

“Sangat potensial dari sisi ekonomi dan harus dikembangkan. Dia menonjolkan kebudayaan yang tinggi sekali serta memberikan kontribusi yang besar kepada dunia,” katanya.

Sintang serta Kalimantan Barat harusnya berbangga karena kekhasan yang dimiliki kledik, dimana saat ini di Pulau Kalimantan, hanya di Desa Sungai Buaya Kabupaten Sintang yang memiliki kledik dan ada masyarakat yang mampu memainkannya. “Kalau alat musik sejenis juga kita temukan di Kaltim, tapi disana tidak ada lagi yang bisa memainkannya. Kita mengejar musik yang “hidup”,” ujar Rizal.

Potensi ekonomi menurut Rizal bukan hanya dengan mempromosikan kledik lantas melupakan masyarakat adat yang ada di Desa Sungai Buaya khususnya masyarakat Dayak Inggar Silat, tapi yang benar menurutnya adalah dengan membuka akses ke desa tersebut sehingga orang yang ingin mengetahui kebudayaan dan klediknya sendiri bisa langsung datang kesana. Sehingga perputaran roda ekonomi di sana tidak hanya dari segi “menjual” kebudayaan tersebut, tapi juga di peroleh dari wisatawan yang berkunjung ke sana dan memberikan pendapatan pada penduduk yang menetap di Desa Sungai Buaya.

“ Pemerintah juga harus mengambil peranan dalam industri kreatif ini misalnya dengan membeli kledik langsung dari desa tersebut terus dipajang di kantor. Dengan langkah ini pemerintah berarti turut memperkenalkan kledik kepada masyarakat luas,” kata Rizal.

Dengan mempromosikan kledik ini juga berarti menambah khasanah budaya daerah Kalbar yang mana masyarakat Dayak sering hanya diidentikkan dengan perisai dan Mandau atau hanya alat musik sape’.

“Sekarang tinggal memikirkan bagaimana cara memasarkan kledik, apakah dengan mengikuti selera pasar atau mengedukasi mereka dengan mengajarkan sesuatu yang bermanfaat,” ucapnya.

Menurutnya, bila kebudayaan ini dipaksakan untuk mengikuti selera pasar, maka yang terjadi adalah kehancuran nilai kebudayan tersebut, namun bila dengan mengedukasi kebudayaan tersebut, maka ini akan mempertahankan warisan budaya yang sangat berharga. Interaksi dengan masyarakat luas harus diciptakan untuk bisa mewujudkan ekonomi kreatif.

Read More..

Senin, 06 Juli 2009

kedirek (Bagian 1)

Mendengar namanya orang akan bertanya-tanya apakah kledik itu. Termasuk saya akan berusaha mencari di search engine bila harus dipaksakan untuk mengartikan apa sebenarnya kledik itu. Namun ketika kledik atau kedirek atau engkurai adalah alat musik tiup (aerofone) yang menggunakan bambu sebagai media penghasil suara (seperti suling). Kledik ini masuk dalam jenis musik tiup dengan menggunakan lidah berupa kayu apin (enau yang lebih kecil) pada ujungnya untuk menghasilkan vibrasi (sumber bunyi).



“Sedangkan pipa-pipa bambu dimanfaatkan untuk memperkeras bunyi dimana pada satu bambu ini menghasilkan satu nada,” kata Rizal.

Seniman yang juga dikenal sebagai seorang etnomusikolog menyebutkan ternyata ada beberapa Negara di Asia Tenggara yang juga memiliki alat tiup yang hampir serupa. Ia memperkirakan kledik sudah muncul sejak 2.000 atau 3.000 tahun yang lalu. “Kledik adalah instrumen yang sistem taksonominya berangkat dari alam. Ini dapat dilihat dari penggunaan bambu, labu, dan rotan sebagai pengikatnya. Bahkan untuk merekatkan bambu dan labu menggunakan sarang lebah sebagai media,” paparnya.


Kledik ini ditemukannya di desa Sungai Buaya, Kabupaten Sintang. Bahkan menurutnya kledik, di Indonesia hanya ditemukan di desa tersebut, dimana selain ada alat musiknya, juga terdapat warga yang bisa memainkan alat tersebut.

“Disitu letak keunikannya selain bentuk dan suaranya juga ada orang yang bisa memainkannya. Disana (Desa Sungai Buaya, red) orang biasa menggunakannya sebagai sarana hiburan. Jadi bukan dimainkan pada saat upacara sakral, ritual atau untuk kegiatan lainnya,” ujar pria yang pernah menjadi dosen di USU Medan.


Cara memainkan alat musik disebut bisa dengan cara ditiup atau diisap (freereed) seperti harmonika. Sedangkan untuk mengatur nada yang keluar dari kledik ini dengan membuka dan menutup lubang yang terdapat pada batang bambu tersebut, dimana untuk setiap batang bambu terdapat satu lubang. “Belum diidentifikasi nada apa-apa saja yang ada disana, bagi saya dia memiliki kekhasan tersendiri,” katanya.

Read More..