Rizaldi Siagian adalah seorang etnomusikologi asal Medan yang saat ini menetap di Jakarta. Pria lulusan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan ini pernah kuliah di Amerika selama 3 tahun pada 1985.
Karya-karya yang pernah dibuatnya, diantaranya film tentang Fadel Muhammad, Seorang Gubernur Gorontalo serta yang terbaru adalah film dokumenter berdurasi 8 menit yang berjudul “My Forest’s Tears” atau dalam bahasa Indonesia Hutanku Meratap yang saat ini masuk dalam nominasi festival film internasional di Jepang. Belum lagi termasuk karya-karya di bidang lainnya.
“Etnomusikolog tidak percaya pada musik-musik universal karena sangat kapitalistik,” jawabnya ketika ditanya mengapa memilih menjadi etnomusikolog.
Walapun demikian, Rizal, sapaan akrabnya mengakui dirinya pernah bermain dalam grup band rock Great Session sebagai seorang drummer dan merangkap komposer ketika masih di USU Medan. Rizal mengungkapkan selama menjadi seorang anak band, ia merasa tidak menjadi apa-apa ketika dia memainkan itu.
“Ketika menjadi seniman saya akan merasakan bahagia dan dari sisi intelektual saya harus bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat,” katanya.
Ia juga menemukan sesuatu di luar dugaan yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Melalui perjalanannya kebeberapa daerah untuk menemukan berbagai macam kebudayaan daerah baginya memberikan ilmu pengetahuan yang lebih luas dan bisa dikembangkan.
Hadirkan Dalam Megalitikum Kuantum
Rizaldi Siagian menjelaskan dirinya berencana untuk menampilkan kledik dalam pagelaran Megalitikum Kuantum bersama kesenian Sub Suku Dayak lainnya seperti Timang yang merupakan tradisi lisan dimana pengetahuan disusun dalam suatu pantun kemudian disampaikan dengan cara bersenandung.
“Saya sudah pesan 100 buah kledik dan saya minta tiga orang untuk belajar. Nantinya ingin saya tampilkan dalam megalitikum kuantum,” papar Rizal.
Ditampilkannya kledik tersebut juga merupakan upaya untuk mempromosikan kebudayaan suku Dayak Inggar Silat karena menurutnya tugas seorang seniman adalah mempromosikan. “Saya peduli dengan mereka. Ini adalah bagian martabat bangsa dan jadikan ini semua sebagai identitas martabat kita,” katanya bersemangat
.
Ia juga ingin menunjukkan bahwa budaya ini bisa ditampilkan di tempat lain. Pertunjukkan kledik ini bisa sebagai pembentukan opini dan proses interaksi sehingga tidak menutup kemungkinan kledik menjadi suatu kebudayaan yang bernilai tinggi dan dikenal di seluruh dunia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar