Senin, 24 Agustus 2009

Kelistrikan Kalbar Kritis


Bagaimana sebenarnya kondisi kelistrikan di Kalimantan Barat (Kalbar) ? Melihat apa yang dirasakan oleh pelanggan PLN selama beberapa waktu terakhir ini rasanya tidak akan sulit untuk mengetahui bahwa kondisi listrik saat ini sudah sangat kritis. Hal tersebut juga diakui oleh Manajer PT PLN (persero) Cabang Pontianak, Franky W. Mewengkang ketika mempresentasikan kondisi listrik Kalbar di Rektorat Untan, Rabu (5/8).

“Pada 2007 kelistrikan di Kalbar sudah masuk dalam kondisi krisis, sedangkan untuk 2008 kita sudah masuk dalam kondisi kritis” ujar Franky.

Biaya operasional yang sangat tinggi, mesin-mesin yang sudah tua, dan kebutuhan akan listrik yang semakin tinggi seiring dengan meningkatnya kondisi ekonomi dan pertambahan penduduk tidak berbanding lurus dengan penambahan mesin pembangkit baru. Yang terjadi ketika salah satu pembangkit mengalami kerusakan, maka akan terjadi pemadaman bergilir bahkan pemadaman total (black out).

“Biaya operasional tinggi karena hampir 100 persen mesin pembangkit PLN di Kalbar menggunakan mesin diesel dengan kapasitas terpasang sebesar 302.553 kW,” tuturnya.

Franky menerangkan biaya BBM memberikan kontribusi paling besar dari kebutuhan biaya operasional lainnya. Pada 2007, BBM menelan 76 persen biaya PLN dan sisanya terbagi untuk oli pelumas, perawatan, kepegawaian, penyusutan dan administrasi. Bahkankan untuk 2008, kontribusi BBM meningkat mencapai 79 persen.

“Saat ini harga jual perKWh sebesar Rp 644, sangat rendah jika dibandingkan dengan biaya operasional yang mencapai Rp 2.260 per KWhnya,” tuturnya.

Dalam pengoperasian industri ketenagalistrikan juga terdapat beberapa kendala baik di perkotaan maupun di pedesaan. Franky mengungkapkan beberapa unit pelayanan PLN letak geografisnya sulit dijangkau sehingga menyebabkan biaya tinggi seperti biaya angkutan BBM.

“Permainan layang-layang menggunakan benang kawat juga sering kali menyebabkan black out di Kota Pontianak,” ujar Franky.

Beberapa waktu lalu, PLN cabang Pontianak pernah membeberkan beberapa gangguan penyulang khususnya di Kota Pontianak. Pada 2008, gangguan penyulang yang berasal dari internal PLN mencapai
305 gangguan yang didominasi kawat putus sebanyak 262 kasus. Sedangkan gangguan dari ekternal PLN mencapai 609 kasus, dengan rincian, akibat pohon sebanyak 360 kasus, layang-layang 84 kasus dan pengaruh alam sebesar 165 kasus.
“Kami sejauh ini memang mengalami kerugian, tapi untuk hal tersebut masih ada subsidi silang,” terang Franky.

Franky menambahkan yang jelas pihaknya tidak pernah mematikan listrik karena kerugian operasional. Mesin-mesin yang sudah tua juga dipaksakan untuk tetap beroperasi karena bila tidak dilakukan maka akan menyebabkan terjadinya pemadaman listrik yang sangat parah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar