Selasa, 14 Juli 2009

Kedirek 2 (Munculkan ekonomi kreatif)


Bagi Rizal, sisi keunikan dari kledik sebenarnya bukan merupakan point interest yang menjadikannya suatu karya seni bernilai tinggi. Akan tetapi, potensi ekonomi kreatif bisa menjadikan kledik sebagai “jalan” untuk mewujudkannya. Apalagi dengan didukung masih adanya masyarakat adat khususnya Suku Dayak Inggar Silat yang berada di desa Sungai Buaya yang memiliki kemampuan memainkan kledik tersebut.

“Sangat potensial dari sisi ekonomi dan harus dikembangkan. Dia menonjolkan kebudayaan yang tinggi sekali serta memberikan kontribusi yang besar kepada dunia,” katanya.

Sintang serta Kalimantan Barat harusnya berbangga karena kekhasan yang dimiliki kledik, dimana saat ini di Pulau Kalimantan, hanya di Desa Sungai Buaya Kabupaten Sintang yang memiliki kledik dan ada masyarakat yang mampu memainkannya. “Kalau alat musik sejenis juga kita temukan di Kaltim, tapi disana tidak ada lagi yang bisa memainkannya. Kita mengejar musik yang “hidup”,” ujar Rizal.

Potensi ekonomi menurut Rizal bukan hanya dengan mempromosikan kledik lantas melupakan masyarakat adat yang ada di Desa Sungai Buaya khususnya masyarakat Dayak Inggar Silat, tapi yang benar menurutnya adalah dengan membuka akses ke desa tersebut sehingga orang yang ingin mengetahui kebudayaan dan klediknya sendiri bisa langsung datang kesana. Sehingga perputaran roda ekonomi di sana tidak hanya dari segi “menjual” kebudayaan tersebut, tapi juga di peroleh dari wisatawan yang berkunjung ke sana dan memberikan pendapatan pada penduduk yang menetap di Desa Sungai Buaya.

“ Pemerintah juga harus mengambil peranan dalam industri kreatif ini misalnya dengan membeli kledik langsung dari desa tersebut terus dipajang di kantor. Dengan langkah ini pemerintah berarti turut memperkenalkan kledik kepada masyarakat luas,” kata Rizal.

Dengan mempromosikan kledik ini juga berarti menambah khasanah budaya daerah Kalbar yang mana masyarakat Dayak sering hanya diidentikkan dengan perisai dan Mandau atau hanya alat musik sape’.

“Sekarang tinggal memikirkan bagaimana cara memasarkan kledik, apakah dengan mengikuti selera pasar atau mengedukasi mereka dengan mengajarkan sesuatu yang bermanfaat,” ucapnya.

Menurutnya, bila kebudayaan ini dipaksakan untuk mengikuti selera pasar, maka yang terjadi adalah kehancuran nilai kebudayan tersebut, namun bila dengan mengedukasi kebudayaan tersebut, maka ini akan mempertahankan warisan budaya yang sangat berharga. Interaksi dengan masyarakat luas harus diciptakan untuk bisa mewujudkan ekonomi kreatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar