Mendengar namanya orang akan bertanya-tanya apakah kledik itu. Termasuk saya akan berusaha mencari di search engine bila harus dipaksakan untuk mengartikan apa sebenarnya kledik itu. Namun ketika kledik atau kedirek atau engkurai adalah alat musik tiup (aerofone) yang menggunakan bambu sebagai media penghasil suara (seperti suling). Kledik ini masuk dalam jenis musik tiup dengan menggunakan lidah berupa kayu apin (enau yang lebih kecil) pada ujungnya untuk menghasilkan vibrasi (sumber bunyi).
“Sedangkan pipa-pipa bambu dimanfaatkan untuk memperkeras bunyi dimana pada satu bambu ini menghasilkan satu nada,” kata Rizal.
Seniman yang juga dikenal sebagai seorang etnomusikolog menyebutkan ternyata ada beberapa Negara di Asia Tenggara yang juga memiliki alat tiup yang hampir serupa. Ia memperkirakan kledik sudah muncul sejak 2.000 atau 3.000 tahun yang lalu. “Kledik adalah instrumen yang sistem taksonominya berangkat dari alam. Ini dapat dilihat dari penggunaan bambu, labu, dan rotan sebagai pengikatnya. Bahkan untuk merekatkan bambu dan labu menggunakan sarang lebah sebagai media,” paparnya.
Kledik ini ditemukannya di desa Sungai Buaya, Kabupaten Sintang. Bahkan menurutnya kledik, di Indonesia hanya ditemukan di desa tersebut, dimana selain ada alat musiknya, juga terdapat warga yang bisa memainkan alat tersebut.
“Disitu letak keunikannya selain bentuk dan suaranya juga ada orang yang bisa memainkannya. Disana (Desa Sungai Buaya, red) orang biasa menggunakannya sebagai sarana hiburan. Jadi bukan dimainkan pada saat upacara sakral, ritual atau untuk kegiatan lainnya,” ujar pria yang pernah menjadi dosen di USU Medan.
Cara memainkan alat musik disebut bisa dengan cara ditiup atau diisap (freereed) seperti harmonika. Sedangkan untuk mengatur nada yang keluar dari kledik ini dengan membuka dan menutup lubang yang terdapat pada batang bambu tersebut, dimana untuk setiap batang bambu terdapat satu lubang. “Belum diidentifikasi nada apa-apa saja yang ada disana, bagi saya dia memiliki kekhasan tersendiri,” katanya.
Seniman yang juga dikenal sebagai seorang etnomusikolog menyebutkan ternyata ada beberapa Negara di Asia Tenggara yang juga memiliki alat tiup yang hampir serupa. Ia memperkirakan kledik sudah muncul sejak 2.000 atau 3.000 tahun yang lalu. “Kledik adalah instrumen yang sistem taksonominya berangkat dari alam. Ini dapat dilihat dari penggunaan bambu, labu, dan rotan sebagai pengikatnya. Bahkan untuk merekatkan bambu dan labu menggunakan sarang lebah sebagai media,” paparnya.
Kledik ini ditemukannya di desa Sungai Buaya, Kabupaten Sintang. Bahkan menurutnya kledik, di Indonesia hanya ditemukan di desa tersebut, dimana selain ada alat musiknya, juga terdapat warga yang bisa memainkan alat tersebut.
“Disitu letak keunikannya selain bentuk dan suaranya juga ada orang yang bisa memainkannya. Disana (Desa Sungai Buaya, red) orang biasa menggunakannya sebagai sarana hiburan. Jadi bukan dimainkan pada saat upacara sakral, ritual atau untuk kegiatan lainnya,” ujar pria yang pernah menjadi dosen di USU Medan.
Cara memainkan alat musik disebut bisa dengan cara ditiup atau diisap (freereed) seperti harmonika. Sedangkan untuk mengatur nada yang keluar dari kledik ini dengan membuka dan menutup lubang yang terdapat pada batang bambu tersebut, dimana untuk setiap batang bambu terdapat satu lubang. “Belum diidentifikasi nada apa-apa saja yang ada disana, bagi saya dia memiliki kekhasan tersendiri,” katanya.


kok Rizaldi yg ahli ttg kledik ya??? bukannya org Inggar Silat yg ahli.
BalasHapus